Macet di Laut Hormuz, Akibat Perang!!
Macet Di Laut Hormuz, Akibat Perang!!
Teheran (D’War Asia). 1000 lebih Kapal Komersial yang sebagian besar Kapal Kargo Minyak dan Barang tertahan di Selat Hormuz Iran, mengancam penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Hal ini terjadi sejak adanya Perang Iran versus Israel dan Amerika Serikat sejak 28 Februari 2026. Kapal-kapal di kawasan yang bersiap melintasi selat tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat ketegangan militer, dengan sebagian kapal besar yang tertahan menjatuhkan jangkar di perairan terbuka.
Juru bicara komando terpadu angkatan bersenjata Iran, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, Rabu (25/3) mengatakan bahwa pihak Iran telah mengubah aturan di selat tersebut dan situasi tidak akan kembali seperti sebelum perang, seraya menegaskan bahwa entitas yang terkait dengan AS dan Israel tidak memiliki hak untuk melintas.
Berdasarkan data pelacak kapal real-time MarineTraffic pada periode 20 hingga 22 Maret, sekitar 1.900 kapal tidak dapat bergerak di sekitar Selat Hormuz. Di antara kapal yang tertahan terdapat sekitar 324 kapal curah, 315 kapal pengangkut minyak atau produk kimia, 267 kapal pengangkut produk minyak, dan 211 kapal tanker minyak mentah. Sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk minyak berada di atas kapal tanker yang tertahan di kawasan tersebut, kata perusahaan analisis Vortexa.
Youtube : Apakah Ini Penyebab Kapal Indonesia Tidak Boleh Lewat Selat Hormuz ??
Sumber Saluran Youtube Kompas.Com
Siap untuk Surat Kabar, Majalah, Blog, dan E-commerce
Kapal Lainnya Yang Tertahan
Selain itu, terdapat 177 kapal kargo umum, 174 kapal kontainer, 98 kapal pengangkut gas petroleum cair, 42 kapal pengangkut aspal atau bitumen, 37 kapal angkut berat, serta 34 kapal tanker LPG atau kimia di kawasan tersebut, sementara sisanya terdiri dari berbagai jenis kapal lain seperti kapal Ro-Ro, kapal pengangkut bahan bakar, dan kapal angkut berat. Perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd melaporkan bahwa enam kapalnya tidak dapat beroperasi di Teluk Persia di tengah ketegangan yang berlangsung.

Tarif Angkutan Melonjak Naik : Rute Alternatif Terbatas
Direktur analisis maritim Baltic and International Maritime Council, Filipe Gouveia, mengatakan kepada Anadolu bahwa dampak penghentian lalu lintas maritim terhadap pasar pelayaran dan tarif angkutan akan bergantung pada berbagai faktor.
Ia menyebut perkembangan harga bahan bakar, lamanya penutupan selat, serta jumlah kapal yang diizinkan Iran untuk melintas akan menjadi faktor penentu, sementara ketegangan di kawasan turut mendorong kenaikan tarif angkutan. Kenaikan tersebut terutama terlihat pada pasar kapal tanker, termasuk tanker minyak mentah dan produk minyak. Ia mengatakan bahwa sejak 27 Februari, Baltic Dirty Tanker Index meningkat 49 persen dan Baltic Clean Tanker Index naik 78 persen hingga 20 Maret, dengan tarif angkutan di pasar kontainer juga mengalami lonjakan. Kenaikan biaya bahan bakar serta pengenaan biaya tambahan darurat oleh perusahaan pelayaran turut berkontribusi terhadap peningkatan tersebut.
Ia menambahkan bahwa dalam kondisi normal sekitar 30 persen ekspor minyak global melalui jalur laut, 4 persen kargo curah kering, dan 3 persen volume kontainer melintasi Selat Hormuz. Namun, hanya sebagian ekspor dari Teluk Persia yang dapat dialihkan ke sumber alternatif, sementara jalur darat tidak memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan volume kargo seperti biasanya. Ia juga menyebutkan bahwa sekitar 5,5 persen armada kapal tanker dunia dan 1,5 persen armada kapal kontainer kargo kering saat ini berada di kawasan Teluk Persia.
8 Kapal dari Negara Ini Bisa Lewati Selat Hormuz, Indonesia Termasuk?
Ketika ketegangan meningkat di kawasan tersebut, harga minyak global langsung merespons dengan lonjakan signifikan. Kondisi ini menegaskan besarnya pengaruh Selat Hormuz terhadap perekonomian internasional, terutama bagi negara pengimpor energi. Pemerintah Iran menegaskan jalur ini tetap terbuka, tetapi hanya untuk kapal dari negara yang tidak dianggap bermusuhan. Kapal-kapal yang ingin melintas wajib melakukan koordinasi dengan otoritas maritim Iran serta memenuhi sejumlah persyaratan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pengendalian wilayah sekaligus respons atas tekanan geopolitik yang terus meningkat. Di sisi lain, parlemen Iran tengah merancang kebijakan baru berupa biaya transit bernilai jutaan dolar untuk setiap kapal.
Daftar Negara yang Masih Diizinkan Melintas
Berikut ini sejumlah negara yang kapalnya masih memperoleh akses di Selat Hormuz:
1. China
China tetap menjadi pengguna utama jalur ini. Kapal kargo miliknya berhasil melintas setelah memperoleh izin resmi, didukung hubungan ekonomi kuat terutama di sektor energi.
2. India
India memperoleh pengecualian akses. Kapal tanker berbendera India dapat melintas setelah melalui koordinasi diplomatik yang intens, sejalan dengan kebutuhan energi yang besar.
3. Pakistan
Akses bagi Pakistan bersifat terbatas. Sebagian kapal diizinkan melintas, sementara lainnya ditolak akibat tidak memenuhi prosedur yang ditetapkan.
4. Bangladesh
Bangladesh termasuk negara yang diizinkan melintas. Kebijakan ini mencerminkan pendekatan Iran terhadap negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik.
5. Irak
Sebagai negara tetangga, Irak tetap memperoleh akses. Faktor kedekatan geografis serta kepentingan stabilitas energi kawasan menjadi pertimbangan utama.
6. Thailand
Thailand berhasil mengirim kapal tanker yang melintas setelah menjalin komunikasi dan koordinasi dengan pihak Iran.
7. Turki
Salah satu kapal Turki berhasil melewati selat setelah memperoleh izin resmi. Namun, sebagian kapal lainnya masih menunggu kepastian akses.
8. Jepang
Meskipun belum ada kapal yang melintas, Iran memberikan sinyal positif terkait peluang akses bagi kapal Jepang setelah proses koordinasi selesai.
Sumber Saluran Youtube SriwijayaPost
Menganalisa berbagai sumber berita di atas yang telah disajikan, prinsip Pola Pandang Luar Negeri Indonesia Bebas Aktif kini di pertanyakan ??
Aspek kecenderungan ketergantungan ke Blok kekuatan Dunia menyebabkan Indonesia “Kesasar/tersesat”. Ada pepatah “Dimana Kaki Berpijak, Disitulah Langit Dijunjung”.
Bapak Pendiri Bangsa, Ir. Sukarno telah mengingatkan dengan prediksi ‘Jas Merah ; Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah’. Beliau telah mempersiapkan bangsa ini melalui Konferensi Asia Afrika dengan mendirikan Non Blok/Non Aliansi. Agar Indonesia dapat ‘BERDIKARI ; Berdiri Diatas Kaki Sendiri”.
Apakah hal ini akan terus berlanjut ? tentu saja akan terus berlanjut, jika Ketahanan Ekonomi Bangsa tidak diperkuat untuk mengurangi ketergantungan Ekonomi, Teknologi dan Militer.
Ekonomi sebenarnya bangsa Indonesia telah memiliki jatidiri asli. kekuatan ekonomi kerakyatan dalam hal ini UMKM ke arah Perkoperasian. Pola Pikir masyarakat yang menilai Koperasi hanya Simpan Pinjam membuat Bangsa ini menjadi bermental Hutangnisasi. UMKM saat ini hanya menjadi Komoditas Pencitraan Pola Penguasa. Sentuhan nyata untuk UMKM sangat minim. Penyaluran kekuatan bantuan ekonomi yang terfokus pada Perbankan terus dilakukan atas dasar agar dapat menyalurkan kembali dalam bentuk Kredit. Penyerapan kredit ini sangat minim, salah satu faktor mendasar Kemacetan Portofolio Pelaku Usaha UMKM dimasa lalu. Memang sudah ada Program Penghapusan Kredit Macet untuk UMKM akan tetapi praktikalnya ternyata berbeda, tetap saja Fasilitas Kredit ini hanya dinikmati oleh Pelaku Usaha yang dekat-dekat saja, Pelaku Usaha yang sudah stabil mutasi usaha nya, dan Pelaku Usaha yang masih bersih SLIK/Bi Checking nya. Penghapusan Kredit Macet ini tetap saja masih ada jejak/bekas historis nya dalam bentuk WO (WriteOff/PenghapusBukuan yang tetap ditagih), dan tanda khusus/kode bahwa Debitur/Mudhorib/Nasabah Peminjam Pernah Macet. Hal ini menjadi Dilematis Praktisi Perbankan untuk Penyaluran Kredit, disatu sisi harus menyalurkan kredit dan disisi lain terikat Peraturan Perbankan Terkait Permasalahan Kredit. Dalam hal ini, perlu dilakukan Program Rangkulan Terhadap Komunitas dan Yayasan yang terfokus pada UMKM, database keanggotaan UMKM yang ada dapat dijadikan Penyaluran Kredit dengan Sistim Kemitraan Yang Bertanggungjawab dan Tranparansi.
Teknologi membawa dampak signifikan bagi kehidupan bangsa. Teknologi Pertanian, Peternakan, Kedokteran dan berbagai teknologi lainnya. Bangsa ini memiliki demografi kependudukan 200juta lebih dimana setengahnya Pelaku Aktif Kepemudaan. Sarana dan fasilitas untuk mengekpresikan Talenta Pemuda bisa dikatakan tidak ada. Alangkah baiknya jika Penguasa menyediakan suatu akses digital untuk karya anak bangsa dalam hal teknologi terapan.
Militerisasi yang sedang trend saat ini dalam hal memperkuat Alutsista negara dengan mengimpor dari negara produsen Alutsista. Belum ada satupun hasil karya anak bangsa yang nyata, assembling, hak cipta asing dan sebagainya hanya di implementasikan sebagai produk dalam negeri. Jutaan kekuatan Punggawa Bangsa Prajurit Nusantara pasti ada yang memiliki potensi untuk berkarya tanpa mengadopsi Alutsista dari mancanegara. Program Karyanisasi perlu dikembangkan, dibina dan diwujudkan.
Semoga bangsa Indonesia tetap menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan harapan Ekonomi Kerakyatan yang sejahtera dan berkehidupan sesuai Pancasila.
- Audiensi Yayasan Duta Aksara Nusantara di KesBangPol Sumut
- Macet di Laut Hormuz, Akibat Perang!!
- Asal Muasal Kota Tebing Tinggi Sumut
- Perubahan Iklim: Penyebab Terjadinya
- Eksplorasi Sumber Daya Alam Mengungkap Fakta Bencana
- AI
- Apple
- Bisnis
- Bumi Hijau
- Business
- Cerita
- Computing
- Ekonomi
- Green
- Mancanegara
- Nasa
- Newsbeat
- Olahraga
- Rally
- Science
- Stories
- Teknologi
- World
- Audiensi Yayasan Duta Aksara Nusantara di KesBangPol Sumut
- Macet di Laut Hormuz, Akibat Perang!!
- Asal Muasal Kota Tebing Tinggi Sumut
- Perubahan Iklim: Penyebab Terjadinya
- Eksplorasi Sumber Daya Alam Mengungkap Fakta Bencana
