Audiensi Yayasan Duta Aksara Nusantara di KesBangPol Sumut

D’War Asia, 02 April 2026

Home » Stories

Aplikasi UMKM Digital : Deskripsi Audiensi Yayasan Duta Aksara Nusantara

Audiensi di terima oleh Kepala Badan (Bapak Mulyono) dan Tim (Bang Rafly-Pak Darius Zebua-Pak Julianto-Bang Aidil) Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Pemerintah Propinsi Sumatera Utara, 02 April 2026,
Video UMKM

Kegiatan Luring/Offline

  • Audiensi Yayasan Duta Aksara Nusantara di KesBangPol Sumut
    Audiensi Yayasan Duta Aksara Nusantara di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Pemerintah Propinsi Sumatera Utara
  • Macet di Laut Hormuz, Akibat Perang!!
    Build Your Website in Minutes with One-Click Import – No Coding Hassle!
  • Asal Muasal Kota Tebing Tinggi Sumut
    UMKM Digital
  • Perubahan Iklim: Penyebab Terjadinya
    Perubahan iklim global adalah perubahan jangka panjang pola cuaca dan suhu bumi, ditandai dengan kenaikan suhu rata-rata yang signifikan (di atas sejak era pra-industri) akibat emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia. Dampaknya meliputi pencairan es kutub, kenaikan muka laut, cuaca ekstrem, dan gangguan ekosistem.
  • Eksplorasi Sumber Daya Alam Mengungkap Fakta Bencana
    Eksploitasi sumber daya alam (SDA) secara berlebihan adalah pengambilan hasil alam yang melebihi kemampuan regenerasi lingkungan, didorong oleh keuntungan jangka pendek, tanpa tanggung jawab lingkungan. Praktik ini memicu kerusakan parah, seperti deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, pencemaran, krisis sosial-ekologis, dan pemanasan global.

Asal Muasal Kota Tebing Tinggi Sumut

Jas Merah, Jangan Sekali Kali Meninggalkan Sejarah.

Refleksi sejarah masa lalu membentuk persejarahan di masa kini. Ada salah satu Kota di Propinsi Sumatera Utara yang memiliki sejarah tersendiri pada masa kerajaan Melayu Deli. Penulis kebetulan berada di lokasi Tebing Tinggi dalam rangka silaturahmi lebaran (pulang kampung). Tanpa disengaja, terbersit di pikiran “Kenapa ya…Kota ini dinamakan Tebing Tinggi…apakah dulu ada Tebing yang tinggi disini??”. Untuk menuntaskan rasa penasaran tersebut, maka Penulis mencari literatur, referensi mengenai Kota Tebing Tinggi di Propinsi Sumatera Utara. Sebelum kita menyentuh historikal mari kita mengenal dahulu Kota Tebing Tinggi ini secara saintis. melintas di historikal.

Tebing Tinggi : Lensa Sekilas Sejarah

1898-a-carriage-on-the-ferry-across-the-padang-river-near-tebing-tinggi

1898-the-rambutan-spring-over-the-padang-river-serdang

1915-1940-central-hospitals-dormitory-tebing-tinggi

1915-1940-the-central-hospital-tebing-tinggi

1915-1940-the-central-hospital-tebing-tinggi

a-ferry-across-the-padang-river-in-deli-sumatra-1898

Tebing Tinggi : Lensa Geografis, Demografi, Kultur

Tebing Tinggi (Abjad Jawi: تبيڠ تيڠڬي; ) adalah sebuah kota di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kota Tebing Tinggi berada di tengah-tengah Kabupaten Serdang Bedagai, dengan luas wilayah 38,44 km². Pada tahun 2020 memiliki penduduk sebanyak 172.838 jiwa, dengan kepadatan 4.496 jiwa/km², dan pada pertengahan tahun 2024 jumlah penduduk sebanyak 182.226 jiwa.

Berdasarkan data PPID Kemendagri yang bersumber dari Data Kependudukan (DKB) Semester 1 Tahun 2024 (diperbarui Januari 2025), populasi Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, berjumlah 184.064 jiwa. Jumlah ini terdiri dari 91.715 laki-laki dan 92.349 perempuan. 

Rincian Kependudukan (Data Semester 1 2024/Januari 2025):

  • Total Penduduk: 184.064 jiwa
  • Laki-laki: 91.715 jiwa
  • Perempuan: 92.349 jiwa
  • Jumlah Kepala Keluarga (KK): 58.052 KK PPID KemendagriPPID Kemendagri +1

Catatan:

  • Jumlah ini menunjukkan pertumbuhan dari estimasi sebelumnya di tahun 2024.
  • Data resmi Kota Tebing Tinggi Dalam Angka 2025 diterbitkan oleh BPS Kota Tebing Tinggi.

Geografi

Menurut Data Badan Informasi dan Komunikasi Sumatera Utara, Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu pemerintahan kota dari 33 Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Berjarak sekitar 80 km dari Kota Medan (Ibu kota Provinsi Sumatera Utara) serta terletak pada lintas utama Sumatra yang menghubungkan Lintas Timur dan Lintas Tengah Sumatra melalui lintas diagonal pada ruas Jalan Tebing Tinggi, Pematangsiantar, Parapat, Balige dan Siborong-borong.

Batas Wilayah

UtaraPTPN III Kebun Rambutan, Kabupaten Serdang Bedagai
TimurPT Socfindo Tanah Besi dan PTPN III Kebun Rambutan, Kabupaten Serdang Bedagai
SelatanPTPN IV Kebun Pabatu dan Perkebunan Paya Pinang, Kabupaten Serdang Bedagai
BaratPTPN III Kebun Gunung Pamela, Kabupaten Serdang Bedagai

Iklim

Tebing Tinggi beriklim tropis dataran rendah. Ketinggian 26 – 24 meter di atas permukaan laut dengan topografi mendatar dan bergelombang. Temperatur udara di kota ini cukup panas yaitu berkisar 25°–27 °C. Sebagaimana kota di Sumatera Utara, curah hujan per tahun rata-rata 1.776 mm/tahun dengan kelembaban udara 80%-90%.

Luas
 • Total38,44 km2 (14,84 sq mi)
Populasi (30 Juni 2024)
 • Total182.226
 • Kepadatan4,700/km2 (12,000/sq mi)
Demografi
 • Agama80,08% Islam13,37% Kristen12,12% Protestan1,25% Katolik6,39% Buddha0,13% Hindu0,03% Konghucu
 • BahasaIndonesia (resmi), Melayu (Melayu Serdang), Batak, Tionghoa (Hokkien), Jawa

Duta Aksara Nusantara Foundation : Bergabung Bersama UMKM Indonesia, Sangat Mudah!

Literasi Video dari Channel Youtube.

Siap untuk Insan Bangkit, Naik Kelas, Adaptif pada Digitalisasi

Sinopsis Historis

Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara, didirikan pada 1 Juli 1917, berasal dari pemukiman yang dibuka oleh Datuk Bandar Kajum pada tahun 1864 di tepi Sungai Padang. Dinamakan “Tebing Tinggi” karena lokasinya yang berada di atas tebing sungai yang tinggi, yang kini menjadi kawasan Kelurahan Tebing Tinggi Lama. 

Didirikan oleh Datuk Bandar Kajum yang melarikan diri dari Kampung Tanjung Marulak setelah diburu oleh tentara Kerajaan Raya pada tahun 1864 yang berada di suatu Tebing di pinggiran Sungai Padang.

Sebelum menjadi kota, wilayah ini merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Padang, sebuah kerajaan Melayu yang merupakan bawahan dari Kerajaan Deli.

Pada 1907, Tebing Tinggi ditetapkan oleh Belanda sebagai kota otonom (gemeente) yang berkembang pesat dalam bidang perkebunan dan perdagangan.

 Kota ini dikenal dengan sebutan “Kota Lemang” karena populernya makanan tradisional lemang yang bermula dari usaha kuliner warga di wilayah tersebut sejak tahun 1950-an. 

Istana Raja : Lensa Fakta Sejarah Yang Terlupakan Oleh Usia Peradaban Manusia

Sejarah Lengkap

Datuk Bandar Kajum Damanik

Daratan yang terhampar di sepanjang pinggiran Sungai Padang dan Sungai Bahilang itu mulai dihuni sebagai tempat tinggal sekitar tahun 1864. Inilah pernyataan resmi pertama yang dibuat oleh sejumlah tokoh masyarakat Kota Tebing Tinggi pada tahun 1987. Pernyataan ini terdapat dalam makalah berjudul “Kertas Kerja Mengenai Pokok-Pokok Pikiran Sekitar Hari Penetapan Berdirinya Kotamadya Daerah Tingkat II Tebing Tinggi”. Makalah ini kemudian dijadikan sebagai Perda yang menetapkan bahwa awal berdirinya Kota Tebing Tinggi adalah 1 Juli 1917.

Dalam makalah itu dipaparkan bagaimana perkembangan daerah ini pasca tahun 1864. Di mana dalam tahun berikutnya, berdasarkan penuturan lisan, seorang bangsawan dari wilayah Bandar Simalungun (sekarang masuk wilayah Pagurawan) bernama Datuk Bandar Kajum bersama pengikut setianya menyusuri sungai Padang untuk mencari hunian baru, hingga kemudian mendarat dan bermukim di sekitar aliran sungai besar itu. Pemukiman itu bernama Kampung Tanjung Marulak (sekarang Kelurahan Tanjung Marulak, Rambutan).

Sayangnya, kehidupan bangsawan dari Bandar ini tidaklah tenteram, karena dia terus saja diburu oleh tentara Kerajaan Raya. Maka, Datuk Bandar Kajum memindahkan pemukimannya ke suatu lokasi yang persis berada di bibir sungai Padang. Pemukiman itu merupakan sebuah tebing yang tinggi. Dia dan para pengikutnya mendirikan hunian di atas tebing yang tinggi itu sembari memagarinya dengan kayu yang kokoh. Pemukiman Datuk Bandar Kajum inilah yang sekarang berlokasi di Kelurahan Tebing Tinggi Lama, Padang Hilir dan kini menjadi lokasi pemakaman keturunan Datuk Bandar Kajum, kemudian yang diyakini sebagai cikal bakal nama Tebing Tinggi.

Pada masa itu, tentara dari Kerajaan Raya suatu kali kembali menyerang Kampung Tebing Tinggi untuk menangkap Datuk Bandar Kajum, tetapi karena tidak berada di tempat, Datuk Bandar Kajum yang bergelar Datuk Punggawa ini selamat. Sedangkan keluarganya, bersama pengikutnya, melarikan diri ke Perkebunan Rambutan yang saat itu dibawah kekuasaan Kolonial Belanda. Dibantu oleh Belanda, Datuk Bandar Kajum pun mengadakan serangan balasan terhadap tentara Kerajaan Raya ini. Dalam peperangan itu, ia bersama pengikutnya berhasil mengalahkan penyerang.

Setelah suasana kembali aman, untuk tetap menjaga ketentraman daerah itu, Datuk Bandar Kajum pun mengadakan perjanjian dengan Belanda. Oleh Belanda, daerah kekuasaan Datuk Bandar Kajum ini dilebur menjadi wilayah taklukan Kerajaan Deli. Penandatanganan perjanjian itu, dilakukan Datuk Bandar Kajum dan Belanda di sebuah sampan bernama “Sagur” di sekitar muara sungai Bahilang.

Adalah Datuk Idris Hood bersama Adnan IlyasDrs. Mulia SianiparAmirullahKasmiranDjunjung SiregarMangara SiraitSjahnan dan O.K.Siradjoel Abidin yang membuat kertas kerja itu dan berusaha menggali sejarah berdirinya Kota Tebing Tinggi. Namun, sebagian besar tokoh ini sudah wafat, sehingga kalangan generasi muda merasa kesulitan untuk melacak akar historis daerah yang bergelar kota lemang itu. Salah satu di antara tokoh itu yang masih hidup adalah Mangara Sirait, mantan anggota DPRD Tebing Tinggi, yang kini bermukim di belakang LP Tebing Tinggi. Pertanyaan yang paling mendasar saat ini adalah, apakah nama daerah hunian dan tempat tinggal di sepanjang aliran sungai Padang dan sungai Bahilang itu sebelum nama “Tebing Tinggi” muncul dalam data sejarah?

Kerajaan Padang

“Daerah itu bernama Kerajaan Padang,” tegas Amiruddin Damanik, warga Desa Kuta Baru, Tebingtinggi, Serdang Bedagai.

Jauh sebelum ada kampung Tebing Tinggi, sepanjang aliran sungai Padang dari hulu hingga hilir, daerah itu merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Padang.

Kerajaan ini dulunya merupakan daerah otonom di bawah Kerajaan Deli yang berpusat di Deli Tua, jelas Amiruddin Damanik yang merupakan mantan penghulu pada masa penghujung berakhirnya kerajaan itu menjelang kemerdekaan Republik Indonesia. Pusat kerajaan ini, lanjut dia, berada di Kampung Bandar Sakti (sekarang Bandar Sakti, Bajenis, Tebing Tinggi) yang merupakan pelabuhan sungai dan menjadi pusat perdagangan Kerajaan Padang dengan kerajaan lain. “Waktu itu sungai merupakan sarana transportasi utama, jadi wajar kalau ibu kota Kerajaan Padang berada di tepian sungai Padang,” terang laki-laki yang terlihat masih memiliki ingatan kuat meski fisiknya sudah sepuh.

Pusat administrasi Kerajaan Padang berada di sebuah bangunan bergaya arsitektur Eropa yang saat ini menjadi markas Koramil 013, di Jalan K.F.Tandean. Bangunan itulah yang menjadi saksi bisu keberadaan Kerajaan Padang. Sedangkan istana raja, lokasinya tidak berapa jauh dari pusat administrasi kerajaan.

“Seingat saya, dulu istana itu masih ada di belakang panglong, bersisian dengan Jalan Dr. Kumpulan Pane dan masih terlihat dari persimpangan Jalan KF Tandean. Tapi sekarang entah ada lagi entah tidak,” tutur Amiruddin Damanik, yang mengaku sudah belasan tahun tidak ke kota (Tebing Tinggi).

Historis Kerajaan Padang ini,dapat dilacak juga melalui cerita lisan, bermula dari memerintahnya seorang penguasa bernama Raja Syah Bokar. Bersama raja ini ada beberapa pembantu raja yang dikenal cukup berpengaruh masa itu, mereka adalah Panglima Daud berkedudukan sebagai panglima perang dan Orang Kaya Bakir sebagai bendahara kerajaan.

Di bawah pengaruh raja ini, Kerajaan Padang memiliki daerah yang luas terdiri dari puluhan kampung dan dipimpin kepala kampung masing-masing. Tiap-tiap kampung merupakan daerah otonom tetapi tunduk pada kekuasaan Kerajaan Padang. Di sebelah utara, Kerajaan Padang berbatasan dengan perkebunan Rambutan yang dikuasai Belanda. Di sebelah selatan, Kerajaan Padang memiliki kampung-kampung yang menjadi batas wilayahnya dengan Kerajaan Raya, Simalungun. Kampung itu adalah Huta Padang dan Bartong –saat ini berada di Kec.Sipispis, Kabupaten Serdang Bedagei. Ke arah barat, kerajaan ini mencapai Kampung Pertapaan –sekarang masuk Kec. Dolok Masihul, Sergai. Demikian pula ke arah timur, kerajaan ini memiliki batas hingga ke Bandar Khalifah—sekarang Kec. Bandar Khalifah, Sergai.

Kerajaan Padang masa itu dihuni penduduk dari multi etnis, baik etnis lokal maupun dari mancanegara. Hingga kini bukti-bukti multi etnisitas itu terlihat dari penamaan kampung-kampung yang ada di Kota Tebing Tinggi., seperti, Kampung Jawa, Kampung Begelen, Kampung Rao, Kampung Mandailing, Kampung Tempel, Kampung Batak dan Kampung Keling. Penamaan kampung yang terakhir ini berlokasi di pinggiran sungai Padang –saat ini terletak di Kelurahan Tanjung Marulak—menginformasikan bahwa pada masa Kerajaan Padang wilayah itu sudah di huni salah satu suku bangsa dari anak benua India. Bukti arkeologis keberadaan etnis anak benua India itu dengan pernah ditemukannya bangkai sebuah perahu bergaya Hindu mengendap dari kedalaman sungai Padang di Desa Kuta Baru sekira lima tahun lalu. Namun sayang, bangkai kapal itu hancur karena tidak terawat.

Demikian pula dengan keberadaan etnis Tionghoa telah ada seiring dengan perkembangan hubungan Kerajaan Padang dengan kerajaan lain. Etnis Tionghoa kala itu, banyak menghuni pinggiran muara sungai Bahilang. Kelompok mereka dipimpin seorang kapitan. “Hingga kini kalau saya tidak salah kediaman kapitan Cina itu masih ada di Jalan Iskandar Muda berhadapan dengan bekas bioskop Metro,” tegas orang tua yang enggan di panggil kakek itu.

Di samping kedua etnis ini, orang-orang Belanda juga belakangan menghuni Kerajaan Padang . Ini dibuktikan dengan adanya perkuburan mereka yang disebut Kerkof (kuburan) di Kampung Bagelen –sekarang di Jalan Cemara.

Beberapa kampung yang spesifik dari kegiatan penduduk kala itu juga masih terabadikan hingga kini, misalnya Kampung Bicara, Bandar Sono, Kampung Persiakan, Kampung Durian, Kampung Jati, Kampung Sawo, Kampung Kurnia, Kampung Jeruk, Kampung Semut, Kampung Tambangan, Kampung Sigiling dan Kampung Badak Bejuang serta beberapa kampung lainnya.

Batas Kerajaan Padang

“Sebelum sampai Sipispis, ada satu kampung bernama Bartong, itulah batas wilayah terjauh Kerajaan Padang,” tegas tokoh sepuh itu yang pernah menjadi tahanan politik di awal Orde Baru. Batas itu diperoleh Kerajaan Padang setelah memenangkan pe perangan dengan Kerajaan Raya. “Perang itu bernama perang Lopot-Lopot, artinya perang intip-mengintip,” jelas penutur ini.

Asal terjadinya perang, ujar Amiruddin, bermula dari seringnya muncul gangguan yang kadang-kadang berakhir dengan pembunuhan dari orang-orang Kerajaan Raya terhadap masyarakat di sekitar Kampung Bulian. Akibatnya, karena ketakutan, penduduk Kampung Bulian banyak yang mengungsi hingga ke Bandar Sakti. Melihat keadaan ini, pasukan Kerajaan Padang kemudian membuat sebuah jembatan di atas sungai Kelembah. Maksudnya untuk mengontrol siapa saja orang-orang yang keluar-masuk ke ibu kota kerajaan.

Ternyata, dibuatnya jembatan itu membuat Kerajaan Raya tidak senang, sehingga mereka selalu saja mengganggu ketentraman warga di Kerajaan Padang. Menghadapi keadaan tidak tenteram itu, Raja Syah Bokar kemudian memerintahkan Panglima Daud untuk mengusir para pengacau itu. Dalam pengusiran itu, Panglima Daud melakukan penaklukan terhadap beberapa kampung lainnya, hingga kemudian panglima Kerajaan Padang ini menghentikan pengejaran di Kampung Bartong. Kampung inilah yang dijadikan batas Kerajaan Padang.

Usai peperangan, Kerajaan Padang harus menghadapi suatu masa pancaroba dalam bentuk perebutan kekuasaan. Dalam suatu acara perburuan di Bandar Khalifah, Raja Syah Bokar karena pengkhianatan panglimanya, mati terbunuh. Lalu, sepeninggal sang raja, kekuasaan dikendalikan oleh OK Bakir. Bendaharawan kerajaan ini menjalankan pemerintahan menunggu dua anak Raja Syah Bokar yang bernama Tengku Alamsyah dan Tengku Hasyim menamatkan sekolahnya di Batavia.

Dalam catatan penutur, pada saat jabatan di pangku OK Bakir inilah Kerajaan Padang kemudian takluk di bawah Kerajaan Deli yang otomatis menjadi taklukan Kolonial Belanda. Sebagai bukti ketundukan terhadap Kerajaan Deli, kerajaan induk ini kemudian mengirim salah seorang petingginya menjadi pemangku raja di Kerajaan Padang. Petinggi Kerajaan Deli itu bernama Tengku Jalal yang kemudian menjabat sebagai raja menanti keturunan raja yang wafat pulang dari tugas belajar.

Selesai menamatkan sekolah, kedua keturunan raja ini kemudian kembali ke Kerajaan Padang untuk melanjutkan tampuk kekuasaan. Pemegang tampuk kekuasaan pertama jatuh ke tangan anak tertua yakni Tengku Alamsyah. Baru kemudian diserahkan kepada anak lainnya yakni Tengku Hasyim. Di tangan Tengku Hasyim ini, gejolak menuntut kemerdekaan terhadap Kolonial Belanda menggemuruh. Sehingga akhirnya seluruh wilayah Kerajaan Padang melebur menjadi Tebing Tinggi dengan batas-batas yang ditentukan administrasi Kolonial Belanda. Batas-batas inilah yang hingga kini menjadi patok administrasi Kota Tebing Tinggi.

Akan halnya Datuk Bandar Kajum, berdasarkan pada penuturan historis lebih awal ini, diperkirakan sebagai salah seorang pemuka masyarakat di Kerajaan Padang. Beliau mendapatkan kehormatan dari penguasa Kerajaan Padang dengan gelar Datuk Punggawa karena kesertaannya dalam perang menghadapi Kerajaan Raya. Datuk Bandar Kajum pun kemudian diberikan tanah dan wewenang untuk membangun pemukiman yang kemudian disebut Kampung Tebing Tinggi.

Lalu, dari pelacakan akar historis Kota Tebing Tinggi pada masa lalu, setidaknya harapan masyarakat Kota Tebing Tinggi untuk melakukan pemekaran wilayah, sebenarnya memiliki momentum historisitas yang bisa jadi memiliki validitas kuat. Jika menggunakan data sejarah di atas—meski merupakan data lisan—sebenarnya wilayah Kota Tebing Tinggi sekarang ini lebih kecil dari wilayah Kerajaan Padang yang berpusat di kota itu. Ada puluhan desa dan kampung di hinterland yang dulunya merupakan wilayah Kerajaan Padang.

Namun karena keberadaan wilayah Tebing Tinggi ini hanya didasarkan pada data Kolonial Belanda, keadaannya menjadi riskan. Kota Tebing Tinggi sebagai ibu kota Kerajaan Padang harus kehilangan puluhan kampung yang dulunya merupakan bagian dari Kota Tebing Tinggi masa lalu itu. Penjajahan Kolonial Belanda telah merugikan Tebing Tinggi dalam soal administrasi kewilayahan.

Masa Penjajahan Belanda

Pada tahun 1887, oleh pemerintah Hindia Belanda, Tebing Tinggi ditetapkan sebagai kota pemerintahan di mana pada tahun tersebut juga dibangun perkebunan besar yang berlokasi di sekitar Kota Tebing Tinggi (hinterland). Pada tahun 1904, menjelang persiapan Tebing Tinggi menjadi kota otonom, didirikan sebuah Badan Pemerintahan yang bernama Plaatselijkke Fonds oleh Cultuur Paad Soematera Timoer.

Pada tanggal 23 Juli 1903, pemerintah Hindia Belanda menetapkan daerah Otonom Kota kecil Tebing Tinggi menjadi pemerintahan kota Tebing Tinggi sebagai daerah otonom dengan sistim desentralisasi.

Pada tahun 1910, sebelum di laksanakannya Zelf Bestuur Padang (Kerajaan Padang), maka telah dibuat titik “Pole Gruth” yaitu pusat perkembangan kota sebagai jarak ukur antara Kota Tebing Tinggi dengan kota sekitarnya. Patok Pole Gruth tersebut terletak di tengah-tengah Taman Bunga di lokasi Rumah Sakit Umum Herna. Untuk menunjang jalannya roda pemerintahan maka diadakan kutipan-kutipan berupa Cukai Pekan, Iuran penerangan dan lain-lain yang berjalan dengan baik.

Pada masa Tebing Tinggi menjadi Kota Otonom maka untuk melaksanakan Pemerintahan, selanjutnya dibentuk Badan Gementeraad Tebing Tinggi, yang beranggotakan 9 orang dengan komposisinya 5 orang Bangsa Eropa, 3 orang Bumiputera, dan 1 orang Bangsa Timur Asing. Hal ini didasarkan kepada Akta Perjanjian Pemerintah Belanda dengan Sultan Deli, bahwa dalam lingkungan Zelfbestuur didudukan orang asing Eropa dan yang dipersamakan dan ditambah dengan orang-orang Timur Asing.

Pada masa itu, adanya perbedaan golongan penduduk, menyebabkan adanya perbedaan pengaturan penguasaan tanah. Untuk mengadakan pengutipan-pengutipan yang disebut setoran retribusi dan pajak daerah, diangkatlah pada waktu itu Penghulu Pekan. Tugas Penghulu Pekan ini juga termasuk menyampaikan perintah-perintah atau kewajiban-kewajiban kepada Rakyat kota Tebing Tinggi yang masuk daerah Zelfbestuur.

Dalam perkembangan selanjutnya informasi Kota Tebing Tinggi sebagai kota Otonom dapat kita baca dari tulisan J.J.Mendelaar, dalam “NOTA BERTREFENDE DEGEMENTE TEBING TINGGI” yang dibuatnya sekitar bulan Juli 1930.

Dalam salah satu bab dari tulisan tersebut dinyatakan bahwa setelah beberapa tahun dalam keadaan vakum mengenai perluasan pelaksanaan Desentralisasi, maka pada tanggal 1 Juli 1917 berdasarkan Desentralisasiewet berdirilah Gementee Tebing tinggi dengan Stelings Ordanitie Van Statblaad 1917 yang berlaku 1 Juli 1917. Karenanya, tanggal 1 Juli inilah yang menjadi Hari jadi Kota Tebing Tinggi.

Masa Pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang, pelaksanaan pemerintah di Tebing Tinggi tidak lagi dilaksanakan oleh Dewan Kota yang bernama Gementeeraad. Pemerintah Jepang menggantikannya dengan nama Dewan Gementee Tebing Tinggi. Menjelang Proklamasi (masih pada masa Jepang) pemerintahan kota Tebing Tinggi tidak berjalan dengan baik.

Masa Indonesia Merdeka

Pada tanggal 20 November 1945, Dewan kota disusun kembali. Dalam formasi keanggotaannya sudah mengalami kemajuan, yang para anggota Dewan Kota terdiri dari pemuka Masyarakat dan Anggota Komite Nasional Daerah. Dewan Kota ini juga tidak berjalan lama, karena pada tanggal 13 Desember 1945, terjadilah pertempuran dengan Militer Jepeng dan sampai sekarang terkenal dengan Peristiwa Berdarah 13 Desember 1945, yang diperingati setiap tahun.

Pada tanggal 17 Mei 1946, Gubernur Sumatera Utara menerbitkan suatu keputusan No.103 tentang pembentukan Dewan Kota Tebing Tinggi, yang selanjutnya disempurnakan kembali dengan nama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, walaupun pada waktu itu ketua Dewan dirangkap Bupati Deli Serdang.

Ketika Agresi pertama Belanda yang dilancarkan pada tanggal 21 Juli 1947, Dewan Kota Tebing Tinggi dibekukan, demikian pula keadaan pada waktu berdirinya Negara Sumatra Timur, Kota Tebing Tinggi tidak mempunyai Dewan Kota untuk melaksanakan tugas pemerintahan.

Pada masa RIS, Dewan kota diadakan berdasarkan peraturan Pemerintah No. 39 tahun 1950. Namun dalam proses pelaksanaannya, panitia pemilihan belum sempat menjalankan tugasnya, Peraturan Pemerintah No. 39 tersebut telah dibatalkan.

Menurut undang-undang No.1 tahun 1957, pemerintah di daerah ini menganut asas Otonomi daerah yang seluasnya. Walaupun dalam undang-undang tersebut ditetapkan bahwa daerah ini berhak mempunyai DPRD yang diambil dari hasil Pemilihan Umum 1955, tetapi berdasarkan undang-undang darurat 1956 DPRD PERALIHAN kota Tebing Tinggi hanya mempunyai 10 (Sepuluh) orang anggota.

Setelah keluarnya Undang-Undang No. 5 tahun 1974, tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, pelaksanaan pemerintahan di Kota Tebing Tinggi sudah relatif lebih baik dibandingkan pada masa-masa sebelumnya. Namun, walaupun sudah memiliki perangkat yang cukup baik, tetapi karena terbatasnya kemampuan daerah dalam mendukung pengadaan dalam berbagai fasilitas yang di butuhkan, roda pemerintahan di daerah ternyata masih banyak mengalami hambatan.

Pada tahun 1980 Presiden Republik Indonesia telah mengganugerakan tanda kehormatan “PARASAMYA PURNA KARYA NUGRAHA” kepada Kotamadya Dati II Tebing Tinggi sebagai penghargaan tertinggi atas hasil kerjanya dalam melaksanakan pembangunan Lima Tahun Kedua, sehingga dinilai telah memberikan kemampuan bagi pembangunan, demi kemajuan Negara Indonesia pada umumnya daerah khususnya.

Mencari ‘Malaikat’ dalam kehidupan

Mencari malaikat dalam kehidupan berarti meyakini kehadiran makhluk gaib utusan Allah yang selalu taat, mencatat amal (Raqib-Atid), melindungi manusia atas izin-Nya, dan memberikan inspirasi kebaikan. Keberadaan mereka dirasakan melalui ketenangan hati, dorongan melakukan ketaatan, serta adanya hikmah di balik musibah, menjadikan hidup lebih optimis dan berhati-hati.

Berikut adalah beberapa cara menemukan dan merasakan peran malaikat dalam kehidupan sehari-hari:

Duta Aksara Nusantara Foundation : Bergabung bersama Pelaku Usaha Ekonomi Kerakyatan!

Koleksi video di salin dari yputube kategori Agama tentang Malaikat

aSiap untuk Penmbahan Keimanan

MALAIKAT CAHAYA JAGAT RAYA

Malaikat Cahaya

  • Bisikan Kebaikan: Merasakan adanya dorongan hati yang kuat untuk berbuat jujur, bersedekah, atau beribadah.
  • Perlindungan (Malaikat Hafadah): Merasa terlindungi dari kecelakaan atau marabahaya yang tidak terduga.
  • Ketenangan Hati: Mendapatkan kedamaian batin saat berzikir, membaca Al-Qur’an, atau berada di majelis ilmu.
  • Mencatat Amal: Sadar bahwa setiap perbuatan, baik maupun buruk, selalu diawasi dan dicatat oleh Malaikat Raqib dan Atid, sehingga memotivasi perilaku baik.
  • Mendoakan Orang Beriman: Malaikat senantiasa mendoakan kebaikan bagi mereka yang beriman, menuntut ilmu, dan berinfak

Iman kepada malaikat membawa dampak praktis seperti peningkatan ketaatan, kejujuran, disiplin, serta rasa aman dalam kehidupan.

MALAIKAT MIKAIL PENJAGA JAGAT RAYA

MALAIKAT MIKAIL.

Malaikat Penjaga Jagat Raya. Ada beberapa Malaikat yang bertugas menjaga Kestabilan Ekosistem Jagat Raya.

Yang Jarang Diketahui Tentang Candi Borobudur

Candi Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia yang dibangun abad ke-8/9 M, menyimpan fakta unik yang jarang diketahui: dibangun tanpa semen (menggunakan sistem penguncian batu vulkanik), pernah tersembunyi berabad-abad di bawah tanah/abu vulkanik sebelum ditemukan kembali oleh Raffles, dan diduga berada di atas danau purba. Candi ini juga memiliki lebih dari 2.600 panel relief yang panjangnya mencapai 5 km.

Apa saja fakta menarik tentang Candi Borobudur?Fakta Menarik Seputar Candi Borobudur

  1. Dibangun Oleh Dinasti Syailendra. …
  2. Memiliki Ukuran Tapak Candi yang Luas. …
  3. Ditemukan Kembali oleh Thomas Stamford Raffles. …
  4. Memiliki Relief Paling Lengkap. …
  5. Diakui Sebagai Situs Warisan Dunia Oleh UNESCO.

Sampai saat ini, Candi Borobudur diperkirakan berusia sekitar 12 abad atau 1200 tahun . Hal ini didukung oleh beberapa penemuan yang menyatakan bahwa pembangunan candi ini dimulai pada abad ke-8 atau ke-9 Masehi.

Bentuk Candi Borobudur : Situs Sejarah Candi Borobudur (Sumber Kompas TV)!

Koleksi Indah Situs Sejarah Bangsa Indonesia Candi Borobudur. Sumber Video Channel Youtube TVONE

Perabadan Maju Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Hal Yang Penting dari Berdirinya Borobudur

Berikut adalah poin-poin menarik dan jarang diketahui tentang Candi Borobudur

  • Dibangun Tanpa Semen/Mortar: Seluruh struktur Borobudur disusun dengan teknik interlocking system atau batu yang saling mengunci, tanpa bahan perekat tradisional, menunjukkan teknik arsitektur yang canggih pada masanya.
  • Ditemukan Kembali secara Tidak Sengaja: Candi ini sempat terbengkalai dan tertutup semak belukar hingga ditemukan oleh tim Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1814 setelah mendapat informasi dari warga lokal.
  • Diduga Berada di Tengah Danau Purba: Para arkeolog menduga Borobudur awalnya dibangun di tepi atau bahkan tengah danau purba, yang mencerminkan teratai yang mengapung di atas air, simbol suci dalam ajaran Buddha.
  • Bukan Salah Satu dari Tujuh Keajaiban Dunia: Meskipun sering disalahartikan, Borobudur tidak pernah terdaftar sebagai salah satu dari 7 Keajaiban Dunia (kuno maupun baru), namun secara resmi diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
  • Pernah Dibom (1985): Kompleks candi pernah diteror bom pada 21 Januari 1985, yang mengakibatkan sembilan stupa rusak parah.
  • Relief Berupa Cerita Panjang: Terdapat 2.672 panel relief yang jika disatukan panjangnya mencapai lebih dari 5 kilometer, yang menceritakan ajaran moral dan kisah hidup Buddha.
  • Geometri Fraktal: Peneliti menemukan bahwa Borobudur dibangun dengan dasar matematika canggih berupa geometri fraktal, yaitu pola yang berulang dengan detail yang sangat rinci.
  • Ditemukan oleh Pihak Lokal: Penemuan kembali Borobudur melibatkan warga lokal yang membantu proses penggalian di bawah arahan tim Inggris dan Belanda. 

Candi ini juga sering diselimuti misteri tentang siapa arsitek utamanya, yang sering diidentikkan dengan sosok Gunadarma. 

Mitos terkenal di Candi Borobudur meliputi “Kunto Bimo” (menyentuh arca di dalam stupa agar terkabul keinginan), “Gunadarma” (arsitek legendaris yang konon menjelma menjadi Pegunungan Menoreh), “Jam Raksasa” (menggunakan stupa puncak sebagai penentu waktu), dan keyakinan bahwa candi dibangun oleh makhluk gaib dalam semalam. Ada juga teori yang mengaitkan Borobudur dengan Nabi Sulaiman, meskipun tidak ada bukti ilmiahnya.